Nov 22 2016

Tradisi Unik Saat Gerhana Di Indonesia

Fenomena gerhana, merupakan sebuah fenomena alam yang bisa terjadi kapanpun di bumi, dan hanya dapat dilihat di negara-negara bagian tertentu yang kebetulan sedang berada dekat arena matahari, bulan dan bumi dalam satu garus lurus. Misalnya saja ketika gerhana matahari, sinar matahari yang harusnya menyorot pada bumi terhalang oleh bulan. Akibatnya sudut belahan bumi yang terhalang bulan menjadi gelap untuk beberapa saat.

Tradisi Unik Saat Gerhana Di Indonesia
Namun yang unik bukan hanya dari fenomena gerhana saja, di Indonesia ada beberapa kelompok masyarakat / suku yang melakukan perayaan terhadap gerhana yang terjadi. Perayaan disini disebut sebuah tradisi dimana mereka biasanya akan memukul sesuatu dalam merayakan gerhana. Tapi tenang saja, yang mereka pukul bukan manusia atau makhluk lainnya kok. Hanya beberapa alat yang bisa jadi malah meramaikan saat-saat gerhana terjadi. Mau tau apa yang unik dari tradisi saat gerhana di Indonesia? Ini dia selengkapnya.

1. Tradisi Pukul Kaleng dan Seng.

Tradisi Pukul Kaleng dan Seng

Masyarakat si Nusa Tenggara Timur memiliki kebiasaan atau tradisi unik ketika datangnya fenomena gerhana. Yaitu melakukan tradisi pukul-pukul kaleng dan seng sehingga membuat suasana menjadi sangat ramai. Tradisi ini ternyata sudah dilakukan sejak dulu. Maksud dari tradisi memukul kaleng dan seng saat gerhana mereka percaya sebagai cara untuk mempercepat gerhana agar berlalu agar saat gerhana matahari ataupun gerhana bulan, keduanya akan cepat berlalu.

2. Dolo-dolo.

Hampir sama dengan tradisi di NTT, masyarakat di Ternate Sulawesi Utara juga melakukan hal unik ketika terjadi gerhana. Jika masyarakat di NTT akan memukul-mukul kaleng dan seng, masyarakat di Timor Ternate akan melakukan hal yang sama, namun alat yang mereka gunakan adalah kentongan bambu.

Kepercayaan tentang terjadinya gerhana oleh masyarakat dianggap sebagai kemunculan dari danya sosok naga yang menelan matahari sehingga bumi menjadi gelap. Uniknya ternyata mereka tidak hanya menggunakan bambu, tapi juga beberapa peralatan untuk masak. Mereka percaya jika membuat keadaan semakin riuh saat gerhana, sang naga tidak akan berani muncul dan memakan matahari.

3. Gerantung.

Gerantung bagi beberapa desa di Kalimantan Tengah, merupakan sebuah makna tentang peleraian perkelahian antara Surya dan Bulan. Adapun karena perkelahian inilah bumi akhirnya menjadi gelap sehingga masyarakat di desa- desa kemudian mengeluarkan benda-benda yang ada didalam rumah dan membunyikannya unuk membuat suasana menjadi ramai. Mereka meyakini jika suasana ramai akan dapat melerai perkelahian antara sang Surya dan Bulan sehingga bumi menjadi terang seperti biasanya. Tidak hanya memukul-mukul benda, masyarakat juga melakukannya sambil melantunkan Mansana (pantun).

Gerantung

Akan tetapi, mengenai tradisi Gerantung tidak hanya tentang memukul benda-benda. Dikawasan lain Kalimantan Tengah, tradisi Gerantung dilakukan dengan cara meramal. Bagi mereka terjadinya gerhana terutama gerhana matahari, merupakan sebuah pertanda untuk datangnya sebuah kejadian besar. Bisa jadi kejadian tersebut membawa kemakmuran, tapi bisa jadi kejadian yang menyengsarakan dan justru malah membawa malapetaka. Oleh karena itu, ketika terjadinya gerhana, banyak masyarakat yang mendekatkan diri kepada kepala adat untuk mengetahui isi dari ramalan itu ataupun minta diramalkan. Tradisi meramal ini sudah diwariskan kepada masyarakat setempat dari nenek moyang mereka.

4. Memukul Gejog Lesung.

Memukul Gejog Lesung

Tidak kalah masyarakat Jawa juga memiliki tradisi serupa pada saat gerhana. Mereka memiliki keyakinan jika gerhana matahari mereka biasanya akan memukul-mukul lesung. Lesung merupakan sebuah simbol dari jasad Batara Kala. Dia merupakan sosok yang diceritakan sebagai manusia yang ingin hidup abadi. Dalam cerita tersebut, Batara Kala mencuri air abadi yang bernama Tirta Amerta yang berada di tempat tinggal para dewa. Namun saat pencurian tersebut akhirnya diketahui oleh Batara Guru, maka kemudian Batara Guru melemparkan senjata yang berupa cakra kearah Batara Kala. Dalam sekejap, cakra tersebut sudah memisahkan kepala Batara Kala dari tubuhnya. Namun kesaktian Tirta Amerta terbukti, walaupun sudah terpisah dari tubuhnya, kepala Batara Kala tetap hidup dan hidup mendendam kepada Batara Kala. Batara yang marah mencoba menelan matahari agar bumi selalu dalam keadaan gelap.

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, melakukan tradisi pukul lesung saat gerhana dianggap jika lesung dipukul-pukul tadi diibaratkan kepala Batara Kala akan merasa geli dan akan memuntahkan kembali matahari sehingga bumi kembali terang.

5. Memukul pohon.

Tradisi memukul pohon saat gerahana dilakukan oleh suku Dayak Ngaju. Pada saat gerhana, seluruh masyarkat Dayak Ngaju berbondong- bondong menuju kebun untuk menggoyang-goyangkan atau memukul-mukul batang pohon buah.

Tradisi ini mereka percayai dapat membangkitkan Gana. Gana adalah roh yang hidup di pohon yang mereka yakini bahwa pada saat gerhana, Gana ini harus segera dibangunkan agar pohon yang menjadi tempatnya berbuah lebat pada waktu berikutnya.

Baca lainnya : Madame Tussauds Miliki Patung Lilin Dengan Tokoh Indonesia

Tradisi Unik Saat Gerhana Di Indonesia |

  • Bangsa-bangsa Kuno Yang Terkenal Dengan Maksiat Gila

    Jika kita melihat kembali pada kehidupan zaman kuno, apa yang terpikirkan? Mungkin tentang kehidupan mereka? Ya, bangsa-bangsa kuno seperti pada era Mesir...

  • Mengenal Tsantsa, Tradisi Mengecilkan Kepala Suku Indian

    Tradisi unik yang bisa dibilang agak ngeri ini tidak lain adalah milik suku Indian, yaitu pengecilan / penyusutan kepala secara ‘sengaja’. Memang...

  • Menelisik Kehidupan Pejuang Kita Di Pengasingan Boven Digoel

    Diasingkan di tempat pengasingan, bukan hal baru bagi para pejuang kita dulu. Bahkan ini sudah menjadi hal yang lumrah dan pengasingan tersebut...

  • Fakta-fakta Orang Suku Baduy Yang Jarang Diketahui

    Jika kita menelisik lagi tentang kehidupan orang-orang suku pedalaman, tentu akan menjadi minat tersendiri juga menambah pengetahuan kita, benar kan? Nah seperti...