Jul 26 2016

Seba, Tradisi Suku Baduy Banten Hukum Adat Dari Leluhur

Di Banten, tepatnya warga suku Baduy mereka termasuk salah satu suku di Indonesia dengan keunikan yang telah kita semua ketahui. Yang unik dari suku ini adalah suku Baduy ini masih mempertahankan apa yang ditinggalkan oleh para leluhur mereka / tetua (disebut juga kokolot dalam bahasa mereka) seperti  salah satunya adalah tradisi ‘Seba’ yang sampai sekarang masih dilaksanakan tiap tahunnya. Tradisi Seba ini dilakukan pada musim panen ladang huma. Menurut cerita suku Baduy, tradisi ini sudah ada sejak zaman Kesultanan Banten di Kabupaten Serang.

Seba, Tradisi Suku Baduy Banten Hukum Adat Dari Leluhur

Seba, Tradisi Suku Baduy Banten Hukum Adat Dari Leluhur

Seba, Tradisi Suku Baduy Banten Hukum Adat Dari Leluhur, disini diartikan sebagai penyerahan hasil pertanian atau hasil bumi pada pemerintahan setempat, dikenal juga sebagai upeti pada kerajaan. Hal ini diartikan sebagai perwujudan rasa syukur masyarakan suku Baduy atas hasil panen yang melimpah ruah. Tradisi yang dilakukan ini tidak ada unsur paksaan didalamnya, mereka senantiasa melakukannya dengan suka rela. Tradisi Seba ini dipimpin oleh Jaro (untuk masyarakan Baduy luar) dan Puun (untuk masyarakat Baduy dalam), bersama-sama untuk membawa hasil tani tersebut pada pemerintahan secara langsung.

Seba, Tradisi Suku Baduy Banten Hukum Adat Dari Leluhur

Tentang suku Baduy Dalam dan Baduy Luar.

Saat ini perbedaan keduanya cukup terlihat dalam cara berpakaian. Pada Baduy Dalam, mereka senantiasa berpakaian serba putih, dan sampai saat ini masih mempertahankan apa yang menjadi adat mereka. Pergi kemanapun dengan tanpa alas kaki, tidak menggunakan kendaraa apapun bahkan saat tradisi Seba yang dilakukan, mereka sampai rela berjalan tanpa alas kaki sampai 50 km jauhnya. Berbeda dari Baduy Dalam, Baduy Luar yang biasa berpakaia nserba hitam kini kehidupannya sudah berbaur dengan kehidupan modern. Bepergian dengan kendaraan, memiliki ponsel dan lainnya.

Hukum Adat Leluhur Baduy

Gunung tak diperkenankan dilebur
Lembah tak diperkenankan dirusak
Larangan tak boleh di rubah
Panjang tak boleh dipotong
Pendek tak boleh disambung
yang bukan harus ditolak yang jangan harus dilarang
yang benar haruslah dibenarkan

Sejak dulu memang masyarakat Baduy sudah berpegang teguh pada ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Kepala Adat (puum). Kepatuhan terhadap ketentuan-ketentuan tersebut telah menjadi mutlak dan tetap dijalani dalam kehidupan bersama-sama. Selain itu, masyarakat suku Baduy juga tidak ada yang membantah atau menentang tentang aturan yang diterapkan Puum. Namun begitu, kehidupan yang mereka jalani menciptakan kondisi masyarakat yang selalu damai dan sejahktera. Tidak ada orang yang kaya, dan tidak ada juga orang miskin, semua merata keseluruhan. Kehidupan mereka, hakekatnya, sama seperti layaknya kehidupan masyarakat lainnya. Hanya saja yang membedakannya adalah begitu banyak aturan tradisional yang terkesan kolot yang harus mereka patuhi.

Baca juga : Makna dari Tari “Perang” Isosolo Khas Papua

  • Menelisik Kehidupan Pejuang Kita Di Pengasingan Boven Digoel

    Diasingkan di tempat pengasingan, bukan hal baru bagi para pejuang kita dulu. Bahkan ini sudah menjadi hal yang lumrah dan pengasingan tersebut...

  • Fakta-fakta Orang Suku Baduy Yang Jarang Diketahui

    Jika kita menelisik lagi tentang kehidupan orang-orang suku pedalaman, tentu akan menjadi minat tersendiri juga menambah pengetahuan kita, benar kan? Nah seperti...

  • Sederet Fakta Yang Harus Anda Ketahui Dari Mumi Di Papua

    Salah satu budaya Papua yang terbilang cukup ekstrim namun membuat kagum tidak lain adalah mumi. Kepatuhan pada tradisi dari cara bagaimana mereka...

  • Adat Budaya Betawi-Portugis Ini Masih Dilakukan Orang Betawi

    Apa yang Anda pikirkan tentang adat budaya DKI Jakarta? Betawi pasti salah satu yang terlintas dalam pikiran ANda. Namun, belum banyak yang...