Jan 3 2017

Mengenal Gredoan, Tradisi Mencari Jodoh Dari Banyuwangi

Berbeda dengan dengan Omed-omedan yang dilakukan secara terbuka dan disaksikan banyak orang. Gredoan yang ada di Banyuwangi dilakukan secara terpisah antara pria dan gadis yang dia suka. Kalau gadis menerima rayuannya dari bali anyaman bambu, maka dia bisa segera melamar dan melaksanakan pernikahnnya. Berikut uraian lengkap tentang Gredoan yang sangat unik itu.

Tradisi mencari jodoh yang cukup fenomenal di Indonesia, adalah omed-omedan yang berasal dari Bali. Namun ternyata, ada tradisi unik lain dalam mencari jodoh yang berasal dari Banyuwangi. Namanya adalah Gredoan. Jika omed-omedan dilakukan beramai-ramai dan diksaksikan banyak orang, Gredoan dilakukan secara terpisah antara pria dan gadis yang mereka suka. Jika gadis menerima rayuan dari bali anyaman bambu, maka sang gadis bisa segera dilamar dan segera melaksanakan pernikahan. Penasaran bagaimana selengkapnya tentang tradisi ini?

Mengenal Gredoan, Tradisi Mencari Jodoh Dari Banyuwangi

Mengenal sejarah dari tradisi Gredoan.

Sebenarnya tidak ada yang tahu kapan asal mula dari tradisi Gredoan ini. Namun, sejak puluhan tahun yang lalu, masyarakat Osing di Banyuwangi telah mengadakannya secara turun temurun. Jika awalnya penduduk di sana melamarkan anaknya secara langsung, maka berbeda dengan tradisi ini, anak-anak merekalah yang akan diberi kebebasan dalam mencari calonnya sendiri dengan syarat tidak melanggar norma agama.

Para pria yang sudah siap menikah bisanya akan memasukkan lidi dari janur kelapa ke lubang anyaman bambu (gedek) milik gadis pujaannya. Jika gadis setuju, lidi itu akan dipatahkan lalu si pria mulai berbicara dan merayu. Perilaku merayu inilah yang membuat tradisi ini disebut Gredoan, karena Gredoan merupakan turunan dari kata gridu yang berarti menggoda. Kalau gadis bisa dirayu, maka pria ini akan segera menemui orangtuanya untuk segera melamar.

Fungsi dari tradisi Gredoan.

Tradisi Gredoan memiliki beberapa fungsi yang saling berkesinambungan. Fungsi pertama adalah sebagai memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw, karena acara ini selalu dilakukan tepat saat Nabi Muhammad Saw lahir. Fungsi kedua dari tradisi ini adalah silaturahmi dengan banyak orang. Setiap warga akan berkumpul dan bertemu satu sama lainnya. Walau hanya setahun sekali, acara ini cukup ampuh untuk mempererat tali persatuan. Fungsi ketiga dari acara ini adalag sebagai hiburan. Banyak pertunjukan pada acara ini sehingga banyak warga berkumpul. Terakhir, acara ini digunakan untuk mencari jodoh yang sesuai dan segera menikah dalam waktu dekat. Gredoan juga disebut sebagai ajang para pria menunjukkan pesonanya agar pria gadis jatuh hati padanya.

Mengenal Gredoan, Tradisi Mencari Jodoh Dari Banyuwangi

Prosesi tradisi Gredoan.

Tradisi ini tidak dijalankan dengan perayaan yang bisa dianggap aneh. Biasanya kaum wanita dan anak gadisnya akan membantu memasak di dapur. Mereka akan memasak hidangan berupa nasi, makanan hidangan khas Osing, juga kue tradisional. Sementara para wanita berada di dapur, para pria akan membuat alat pertunjukan atau mengumpulkan sumbangan minyak tanah dari warga. Menjelang malam, pertunjukan akan segera di mulai. Para pria akan mulai untuk menyalakan obor-obor yang telah disiapkan di tangan masing-masing. Obor yang berbentuk tongkat ini akan dibawa oleh para pemuda yang sesekali digunakan sebagai alat untuk bertarung satu dengan lainnya. Atraksi ini dilakukan dengan berkeliling kampung sehingga kawasan itu jadi bercahaya meski tanpa lampu.

Pantangan masyarakat melihat tradisi Gredoan.

Beberapa kalangan berpendapat jika tradisi Gredongan adalah alternatif lain dari pemaksaan sebuah lamaran. Orang tua hanya memberikan fasilitas sementara kedua anaknya akan berkenalan sendiri dengan cara yang benar. Jika perkenalan ini cocok, maka akan berlanjut dengan pernikahan. Tradisi Gredoan juga akan mengurangi adanya praktik kawin colong yang cukup meresahkan bagi beberapa orangtua.

Gredoan juga dipandang sebagai tradisi perkenalan yang lebih bermartabat. Pria dan wanita tidak bertemu secara langsung karena bukan muhrimnya. Tradisi ini dipandang sebagai pemersatu penduduk Suku Osing sehingga mereka bisa bahu-membahu untuk menyelenggarakan acara besar ini mulai dari tenaga hingga dana. (boombastis)

posted by : budaya.ijomuda.com

  • Menelisik Kehidupan Pejuang Kita Di Pengasingan Boven Digoel

    Diasingkan di tempat pengasingan, bukan hal baru bagi para pejuang kita dulu. Bahkan ini sudah menjadi hal yang lumrah dan pengasingan tersebut...

  • Fakta-fakta Orang Suku Baduy Yang Jarang Diketahui

    Jika kita menelisik lagi tentang kehidupan orang-orang suku pedalaman, tentu akan menjadi minat tersendiri juga menambah pengetahuan kita, benar kan? Nah seperti...

  • Sederet Fakta Yang Harus Anda Ketahui Dari Mumi Di Papua

    Salah satu budaya Papua yang terbilang cukup ekstrim namun membuat kagum tidak lain adalah mumi. Kepatuhan pada tradisi dari cara bagaimana mereka...

  • Adat Budaya Betawi-Portugis Ini Masih Dilakukan Orang Betawi

    Apa yang Anda pikirkan tentang adat budaya DKI Jakarta? Betawi pasti salah satu yang terlintas dalam pikiran ANda. Namun, belum banyak yang...