Dec 16 2016

Fakta Haji Agus Salim, Pejuang Kemerdekaan Indonesia

Dalam masa-masa Indonesia mencapai kemerdekaannya dulu, ada banyak tokoh yang kita ketahui sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia, yang nama serta jasanya akan selalu dikenang.

Salah satu pejuang yang mungkin kalian ingat adalah Haji Agus Salim. Pernah kan mendengar nama tersebut saat dulu belajar sejarah? Nah, Haji Agus Salim selain adalah seorang pejuang beliau juga merupakan pendiri bangsa yang berasal dari tanah Minang sebagai seorang yang dikenal dengan ‘gilo-gilo baso’, yang berarti nyentrik atau dalam Bahasa Jawa disebut ‘gendeng’. Judulkan tersebut diberikan oleh Rosihan Anwar.

Fakta Haji Agus Salim, Pejuang Kemerdekaan Indonesia

Haji Agus Salim juga dikenal sebagai seseorang yang memiliki lidah setajam pedang, ketika terlibat dalam musyawarah atau berbicara biasa sekalipun. Dengan tubuh kecil, Haji Agus Salim memiliki kemampuan luar biasa dalam berdebat dengan lawan hingga membuat lawan bungkam total.

Untuk itu, mari kita kenal lebih dekat melalui 5 Fakta Haji Agus Salim, Pejuang Kemerdekaan Indonesia berikut ini.

1. Berbakat dalam berdebat karena menjunjung prinsip.

H. Agus Salim semenjak muda memang pandai bermain lidah. Ia memiliki prinsip setiap perdebatan akan ia hadapi dan harus ia menangi. Seperti saat ia diperselisihi Muso, yang kelak menjadi tokoh komunis Indonesia, di Sarekat Islam. Karena perbedaan sikap, kedua tokoh ini selalu ramai dalam perdebatan dan tanpa rasa takut Haji Agus Salim selalu membalas setiap perdebatan yang dilancarkan Muso.

Fakta Haji Agus Salim, Pejuang Kemerdekaan Indonesia

Menurut M. Roem, tokoh bangsa yang terkenal lewat Perjanjian Roem-Royyen dan kelak menjadi Menteri Luar Negeri RI ke-4, Agus Salim yang dikenalnya memang sangat ahli dalam berkelit, bernegosiasi, dan memiliki lidah yang amat tajam saat mengecam. Masih menurut M.Roem, dengan kemampuan ini jarang ada yang mau berhadapan dengan Agus Salim untuk melakukan perdebatan.

 

2. Harga diri yang tidak bisa digadaikan untuk memperoleh beasiswa dari Belanda.

Agus Salim adalah anak keempat dari Haji Moehammad Salim yang bekerja sebagai jaksa kepala di Pengadilan Tinggi Riau. Karena kedudukan ayahnya, Agus Salim muda memiliki akses luas untuk belajar di sekolah Belanda. Agus Salim yang sejak kecil memang sudah terlihat pintar, sempat mengajukan beasiswa kepada pemerintah Belanda, sayangnya permintaan itu ditolak oleh Belanda.

Di saat yang sama, Kartini justru memperoleh beasiswa itu dan terkendala izin orang tuanya. Karena itu, Kartini mendesak pemerintah Belanda untuk menghibahkan beasiswa itu kepada Agus Salim dan mereka menyanggupinya. Kali ini Agus Salim malah berbalik menolak beasiswa itu karena menganggap pemberian itu hanya berkat desakan Kartini saja, bukan karena penghargaan atas dirinya yang memang patut menerima beasiswa tersebut.

Fakta Haji Agus Salim, Pejuang Kemerdekaan Indonesia

3. Seorang pejabat yang justru hidupnya dibawah kesederhanaan.

Walaupun Agus Salim adalah seorang diplomat, kehidupannya bersama keluarganya tidak mencerminkan sebagai kehidupan seorang pejabat yang bergelimang harta. Hidupnya berpindah-pindah dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain. Kadang, rumah itupun hanya terdiri dari satu kamar di gang becek untuk dihuni bersama istri dan 8 orang anaknya serta berkoper-koper buku koleksi yang dimilikinya.

Walaupun hidup dibawah garis kemiskinan, kehidupan tersebut tidak membuat keluarganya hidup murung dan bersedih hati. Justru M. Roem, yang sering bertandang ke rumah Agus Salim, bersaksi bahwa keceriaan di tengah keluarga Agus Salim mampu membuatnya setiap kali lupa betapa melaratnya keluarga ini. Terakhir ia mondok di Jalan Gereja Theresia No. 20, tempat di mana Agus Salim menghabiskan masa tua.

 

4. Salah seorang pelopor Home Schooling tercipta di Indonesia.

Agus Salim bisa dibilang sebagai salah satu pelopor home shooling Indonesia di era kemerdekaan. Agus Salim dan sang istri lebih memilih untuk mendidik ketujuh anaknya dengan tangan mereka sendiri. Tercatat, hanya si bungsu saja yang saat itu pernah merasakan pendidikan formal. Pilihan ini bukan karena Agus Salim tidak mampu membiayai pendidikan putra-putrinya, tapi lebih karena ia tidak percaya sekolah kolonial mampu membuat anaknya hidup mandiri.

Hasilnya, dalam usia 13 tahun, anak tertua Agus Salim yaitu  Jusuf Taufik, sudah mampu membaca Epos Mahabarata dalam Bahasa Belanda. Padahal, tata Bahasa Belanda terkenal amat sulit untuk dipelajari. Juga putri tertuanya yang bernama Dolly, ternyata bisa mengembangkan bakatnya di bidang musik piano berkat pendidikan orang tuanya. Ia pernah mengiringi W.R. Soepratman menyanyikan Lagu Indonesia Raya dalam usia 15 tahun dalam alunan biola dan musik piano.

Fakta Haji Agus Salim, Pejuang Kemerdekaan Indonesia

5. Pengakuan Kemerdekaan Indonesia dari Mesir berkat lobi H. Agus Salim.

Setelah Indonesia meraih kemerdekaan, bakat debat dan ketajaman lidah dari seorang Agus Salim dimanfaatkan pemerintah Indonesia untuk menyokong politik luar negeri Indonesia. Agus Salim kemudian ditunjuk menjadi Menteri Luar Negeri pertama Indonesia. Sebagai seorang diplomat, ketajaman lobi-lobi yang dilakukan oleh beliau terbukti atas diakuinya kemerdekaan Indonesia oleh Mesir.

Pada saat itu Mesir merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Surat resmi pengakuan Mesir terhadap kemerdekaan Indonesia dibawa langsung ke Jogjakarta, yang masih menjadi Ibukota Republik Indonesia. Meski Belanda sempat protes terhadap pemerintah Mesir atas pengakuan ini, nyatanya Mesir memilih untuk pasang badan untuk mendukung Indonesia. Sejak saat itulah hubungan antara Indonesia-Mesir kian harmonis berkat lobi-lobi hebat delegasi yang dipimpin Agus Salim.

Satu fakta lainnya yang penting dari Agus adalah beliau merupakan orang tua yang membanggakan dengan kemampuan memahami serta menguasai 9 bahasa, diantaraya Bahasa Belanda, Inggris, Arab, Jepang, Perancis, Jerman, Mandarin, Latin, dan Turki. Bahkan bahasa daerah Sunda dan Jawa pun beliau sangat pandai.

Karena kemampuan kompeten yang luar biasa dari Agus Salim akhirnya beliau ditunjuk sebagai perwakilan Indonesia di Konferensi Inter-Asia di New Delhi tahun 1947. Ia juga pernah mendampingi Sutan Sjahrir dalam sidang Dewan Keamanan PBB di Lake Success, Amerika Serikat. Dalam perundingan Renville pun ia kembali diperintahkan untuk ambil bagian di dalamnya.

Baca juga : Fakta Dibalik Sang Saka Bendera Merah Putih

  • Menelisik Kehidupan Pejuang Kita Di Pengasingan Boven Digoel

    Diasingkan di tempat pengasingan, bukan hal baru bagi para pejuang kita dulu. Bahkan ini sudah menjadi hal yang lumrah dan pengasingan tersebut...

  • Fakta-fakta Orang Suku Baduy Yang Jarang Diketahui

    Jika kita menelisik lagi tentang kehidupan orang-orang suku pedalaman, tentu akan menjadi minat tersendiri juga menambah pengetahuan kita, benar kan? Nah seperti...

  • Sederet Fakta Yang Harus Anda Ketahui Dari Mumi Di Papua

    Salah satu budaya Papua yang terbilang cukup ekstrim namun membuat kagum tidak lain adalah mumi. Kepatuhan pada tradisi dari cara bagaimana mereka...

  • Adat Budaya Betawi-Portugis Ini Masih Dilakukan Orang Betawi

    Apa yang Anda pikirkan tentang adat budaya DKI Jakarta? Betawi pasti salah satu yang terlintas dalam pikiran ANda. Namun, belum banyak yang...