Jul 23 2016

Adat Pernikahan Dari Suku Rote, Nusa Tenggara Timur

Berbicara mengenai suku Rote, asal usulnya telah disebutkan bahwa pada tahun 1854 silam didalam buku Land Taal & Volkenkunde Van Netherlands Indie dinyatakan bahwa pada sekitar abad ke 3 sesudah para penduduk mulai mendiami pulau Rote, disebelah utara pulau Rote tersebut muncul beberapa kapal dari Portugis yang sedang berlabuh karena membutuhkan air minum. Ketika sampai dipantai mereka bertemu dengan seorang nelayan lalu bertanya begini “Pulau ini bentuknya bagaimana?” Sang nelayan pun tidak menyangka mereka akan menanyakan namanya sehingga nelayan tersebut menjawab “Rote” (Rote adalah Mijn Naam). Nahkoda kapal yang mendengar jawaban tersebut kemudian menyangka bahwa pulau tersebut memang bernama Rote dan segera menamakannya seperti pengakuan nelayan tadi. Itulah bagaimana asal-usul dari pulau Rote.

Adat Pernikahan Dari Suku Rote, Nusa Tenggara Timur

Adat Pernikahan Dari Suku Rote, Nusa Tenggara Timur

Kali ini yang menarik dari pembahasan dari suku Rote adalah tentang adat pernikahannya. Ya, adat pernikahan dari suku Rote sangat unik dan memiliki tahapan-tahapan berbeda dari adat pernikahan suku lainnya. Bagaimana selengkapnya? Ini dia.

Adat Pernikahan Dari Suku Rote, Nusa Tenggara Timur

1. Proses peminangan.

Suku Rote dalam proses peminangan diawali dengan pembawaan mbotik atau tempat sirih pinang di pagi hari oleh bibi dari pihak lelaki (disebut ti’i) ke rumah pihak perempuan. Ti’i akan menunggu hingga gadis yang akan dipinang tersebut bangun, kemudian orangtua si gadis akan menyapa “au mai sangga bei bara haik” yang artinya saya datang mencari tenaga kerja. Dan ketika disetujui oleh keluarga perempuan, mereka membalas  “felasik ala mai” yang berarti silahkan orangtua datang. Dalam tahap peminangan ini pihak lelaki mengumpulkan seluruh keluarganya sebagai keluarga penerima perempuan (bapa te’o mama te’o) dan keluarga pemberi perempuan (bei huk to’o huk).

2. Peminangan dengan resmi.

Tahap kedua waktunya untuk peminangan resmi. Keluarga lelaki yang datang harus berjumlah ganjil biasanya 5 sampai 7 orang. Pada tahap ini mereka akan membahas mengenai belis atau pembayaran / pengantarannya. Dari pihak lelaki memiliki acara tu’u belis tu’u belis di mana seluruh keluarga lelaki diundang dan mengumpulkan sumbangan belis, dimulai dari mendaftar keluarga yang akan diundang, membicarakan sumbangan yang akan diberikan, dan menyerahkan sumbangan belis.

3. Pengantaran belis.

Pengantaran belis kemudian akan dilakukan sesuai kesepakatan saat kedua belah pihak dan penyerahannya dilakukan dengan mengucapkan kata-kata penyerahan dan kata-kata penerimaan.

4. Terang Kampung.

Selanjutnya adalah Terang Kampung yang merupakan proses untuk pengukuhan imam adat sebagai pemimpin untuk upacara pernikahan. Upacara pernikahan tersebut dinamakan Natu du sasook. Natu du sasook artinya adalah sebuah pemberitahuan bahwa lelaki dan perempuan tersebut telah resmi sebagai suami istri. Upacara ini disertai dengan pesta yang mengundang kerabat dan kenalan. Pada pagi harinya, pengantin perempuan diantar ke rumah penganti lelaki (Napora atau dode).

Dalam pemilihan perempuan untuk menjadi pengantin / istrinya kelak, lelaki kaum Rote harus memperhatikan beberapa ungkapan berikut:

Tu titino
Sao mamete
Tu sangga duduak
Sao sangga safik
Fo ana tea bae nggi leo
Mba ana kula haba babongkik

Yang artinya:

Kawin selidiki baik-baik
Kawin harus diteliti
Kawin harus mencari pikiran yang sama
Kawin untuk menyatukan hati
Agar dapat mempersilakan sirih kepada
Kerabat dan handai taulan.

Dengan begitu, lelaki Rote dapat berhati-hati dalam memiliki perempuan yang akan dijadikan istrinya.

Itu saja mengenai Adat Pernikahan Dari Suku Rote, Nusa Tenggara Timur. Terbatasnya informasi mengenai adat dan tradisi suku Rote hanya bisa saya bagikan sampai disini. Semoga bermanfaat untuk Anda para pembaca setia situs Budaya Terlengkap Dari Indonesia Hingga Mancanegara.

Baca juga : Yuk Ketahui Makna Filosofi Roti Buaya pada Pernikahan Adat Betawi

Adat Pernikahan Dari Suku Rote, Nusa Tenggara Timur |

  • Menelisik Kehidupan Pejuang Kita Di Pengasingan Boven Digoel

    Diasingkan di tempat pengasingan, bukan hal baru bagi para pejuang kita dulu. Bahkan ini sudah menjadi hal yang lumrah dan pengasingan tersebut...

  • Fakta-fakta Orang Suku Baduy Yang Jarang Diketahui

    Jika kita menelisik lagi tentang kehidupan orang-orang suku pedalaman, tentu akan menjadi minat tersendiri juga menambah pengetahuan kita, benar kan? Nah seperti...

  • Sederet Fakta Yang Harus Anda Ketahui Dari Mumi Di Papua

    Salah satu budaya Papua yang terbilang cukup ekstrim namun membuat kagum tidak lain adalah mumi. Kepatuhan pada tradisi dari cara bagaimana mereka...

  • Adat Budaya Betawi-Portugis Ini Masih Dilakukan Orang Betawi

    Apa yang Anda pikirkan tentang adat budaya DKI Jakarta? Betawi pasti salah satu yang terlintas dalam pikiran ANda. Namun, belum banyak yang...