Dec 14 2015

5 Suku Yang Keberadaanya Masih Menjadi Mitos

Indonesia memang masih memiliki banyak misteri, entah dari kendahan alam, panorama, budaya, tradisi dan suku yang dimilikinya. Ada beberapa tempat di kepulauan Indonesia yang belum terjamah seluruhnya, termasuk mungkin beberapa suku berikut ini yang ternyata keberadannya masih menjadi mistos. Apakah suku tersebut memang ada atau tidak, namun berdasarkan beberapa pengakuan masyarakat yang penah secara tidak sengaja bertemu dengan suku-suku tersebut. Jadi, apakah Anda ingin tahu suku apa saja yang masih dianggap sebagai mitos? Ini dia selengkapnya :

1. Suku Mantee, di Aceh Sumatra

5 Suku Yang Keberadaanya Masih Menjadi Mitos - suku mantee

Suku Mantee, termasuk suku yang hidup di pedalaman provinsi Aceh. Suku Mantee ini disebut sebagai suku misteriys karena keberadaanya hingga saat ini masih berdasarkan cerita dari masyatakat yang mengaku pernah bertemu mereka saat di hutan pedalaman. Ada banyak masyarakat yang pernah mengakuinya, namun ini tidak berlangsung lama sebab suku Mantee ini begitu bertemu dengan orang asing, atau orang di luar komunitas mereka, maka akan langsung lari bersembunyi masuk ke dalam hutan. Suku Mantee ini tidak mau melakukan kontak hubungan dengan penduduk lain.

Suku Mantee : Untuk ukuran tubuh suku Mantee ini di luar lazimnya manusia biasa, karena suku Mantee ini hanya berukuran kurang lebih satu meter, alias bertubuh kecil, atau kira-kira seukuran tubuh anak usia 6 tahun. Memiliki kulit berwarna gelap kehitaman dan berambut ikal. Ciri-ciri fisik seperti ini mengingatkan kita kepada suku Pigmi di Afrika. Tetapi suku Mantee ini bukanlah ras negroid seperti suku Pigmi, melainkan memiliki ras weddoid, seperti suku Kubu di Jambi, hanya saja berukuran tubuh kecil. Keberadaan suku Mantee ini, pada awalnya hanya dianggap sebagai cerita-cerita rakyat saja, yang biasa muncul dari satu mulut ke mulut yang lain. Tetapi belakangan hal ini mulai menarik perhatian beberapa penulis di media internet untuk membahas tentang suku Mantee ini. Walaupun data yang dibutuhkan tidak ada, melainkan hanya dari cerita dari mulut ke mulut saja.

2. Orang Pendek, di Jambi Sumatra

5 Suku Yang Keberadaanya Masih Menjadi Mitos - orang pendek



Sama dengan Suku Mantee, suku di jambi lebih dikenal dengan sebutan Orang Pendek ini termasuk makhluk Cryptozoology yang dipercaya hidup tersebar di beberapa wilayah Sumatera seperti Bengkulu, Palembang dan Jambi. Orang Pendek ini memiliki sejumlah nama lain, tergantung daerah dimana ia berada, yaitu Orang Pende, Atu Pendek, Ijaoe, Sedabo, Sedapa, Sindai, Uhang Pandak, Orang Letjo dan Orang Gugu. Makhluk ini memiliki tinggi hanya sekitar 70 cm, diselubungi oleh bulu gelap. Namun wajahnya relatif tidak diselimuti bulu.

Ahli Cryptozoology W Osman Hill percaya bahwa Orang Pendek masih memiliki hubungan dengan Homo Erectus dari jawa. Peneliti lain menghubungkannya dengan hobbit dari Flores. Penduduk lokal Sumatera percaya bahwa Orang Pendek adalah makhluk yang ramah, yang hanya menyerang hewan-hewan kecil untuk makanan. Karena itu mereka menerima keberadaan makhluk ini dengan toleransi.

Berdasakan legenda, Orang pendek mulai terdengar sejak awal abad 20. Pada tanggal 21 Agustus 1915, Edward Jacobson menemukan sekumpulan jejak misterius di tepi danau Bento, di tenggara gunung Kerinci provinsi Jambi. Pemandunya yang bernama Mat Getoep mengatakan bahwa jejak sepanjang 5 inci tersebut adalah milik Orang Pendek. Kemudian pada Desember 1917, seorang manajer perkebunan bernama Oostingh berjumpa dengan Orang Pendek di sebuah hutan dekat Bukit Kaba. Ketika makhluk itu melihatnya, ia bangkit berdiri lalu dengan tenang berjalan beberapa meter dan kemudian naik ke pohon dan menghilang. Penampakan makhluk ini juga sempat dilaporkan di wilayah Palembang. Seorang Belanda yang bernama Van Herwaarden menceritakan bahwa ia melihat Orang Pendek di sebuah pohon di utara Palembang pada Oktober 1923. Pertama, Herwaarden bermaksud menembaknya, namun kemudian ia melihat makhluk itu sangat mirip dengan manusia sehingga ia memutuskan untuk membiarkannya. Pengalamannya dipublikasikan di majalah Tropical Nature no.13 yang terbit tahun 1924.

Makhluk ini kembali mulai mendapat status internasionalnya pada tahun 1989 ketika seorang penulis Inggris bernama Deborah Martyr menemukan jejak-jejak Orang Pendek di barat daya Sumatera. Jejak-jejak tersebut setara dengan jejak anak kecil berusia 7 tahun. Ia lalu mencetak jejak tersebut dengan gips dan mengirimnya ke badan pemerintahan yang mengurus taman nasional, namun kemudian cetakan itu hilang. Setelah 5 tahun meneliti, Martyr akhirnya melihat sendiri Orang Pendek di wilayah gunung Kerinci pada 30 September 1994. Makhluk itu terlihat sedang berjalan dengan tenang dengan dua kakinya. Setelah jarak beberapa puluh meter, makhluk itu berhenti sebentar, menoleh ke Martyr, lalu menghilang ke dalam hutan. Sejak penampakan itu, Martyr masih menjumpai makhluk itu dua kali. Luar biasanya, walaupun Orang Pendek umumnya berhabitat di Kerinci, propinsi Jambi, namun penampakan makhluk ini terjadi hampir di seluruh Sumatera. Pada tahun 1995 ketika gempa besar melanda Liwa, Lampung, beberapa penduduk lokal menyampaikan kepada para pekerja asing bahwa mereka menyaksikan Orang Pendek keluar dari hutan, mungkin takut akibat gempa besar tersebut.

3. Suku Dayak Punan Kaki Merah, di Kalimantan

5 Suku Yang Keberadaanya Masih Menjadi Mitos - suku dayak punan kaki merah

Suku Dayak Punan Kaki Merah disebut juga sebagai Ot Siau, adalah satu dari beberapa suku pedalaman yang masih mempertahankan cara hidup yang sangat sederhana, atau bisa dibilang nyaris primitif. Suku Ot Siau ini sangat misterius, karena berita tentang keberadaannya hanyalah berdasarkan penuturan masyarakat dayak lain yang mengatakan pernah bertemu dengan suku Dayak Punan Merah ini. Suku Dayak Punan Merah ini memiliki ciri unik, yaitu tangan dan kaki berwarna merah. Suku ini diberi nama Siau karena tangan dan kakinya mirip dengan kaki burung Siau. Suku Ot Siau yang hidup mengembara di hutan pedalaman, disebut sebagai orang Punan “asli”, yang hidup di rimba belantara dan di dalam goa-goa yang gelap. Kaki dan tangan mereka diwarnai merah dengan daun saronang atau jarenang. Seluruh tubuh mereka dilapis dengan sejenis jamur yang mengandung fosfor sehingga tampak menyala di kegelapan. Oleh karena itu juga suku Dayak Ot Siau ini mendapat sebutan sebagai suku Dayak Punan Merah atau Punan Kaki Merah. Beberapa orangtua dari masyarakat dayak lain, hanya mengatakan pernah melihat jejak kaki, tetapi tidak pernah melihat orangnya. Menurut mereka, hal itu terjadi karena orang Ot Siau memiliki kata lamunan, semacam mantra sakti untuk menghilangkan diri di balik daun.

4. Suku Berebere, di Maluku

5 Suku Yang Keberadaanya Masih Menjadi Mitos - suku berebere

Suku Berebere di Maluku sebagai manusia kanibal, terakhir terlihat pada awal tahun 1900-an, populasi diperkirakan hanya belasan orang saja. Ciri-ciri Suku Berebere ini bertubuh besar, hampir setinggi 2 meter, warna kulit hitam, dengan perawakan menakutkan. Menurut penduduk lain di Halmahera Timur, mengatakan bahwa suku Berebere berukuran tubuh besar mencapai 2 meter dengan berat di atas 100 kg. Suku Berebere hidup secara liar di hutan-hutan Halmahera, berburu apa saja yang ditemui, segala jenis binatang liar yang hidup di hutan. Apabila tidak menemukan binatang seekorpun untuk dijadikan makanan, maka mereka akan secara diam-diam akan memburu manusia dari suku-suku lain yang kebetulan berada di tepi hutan dekat pemukiman suku lain.

Suku Berebere ini pada masa lalu sangat ditakuti, karena akan sangat ganas jika bertemu dengan suku-suku lain. Mereka akan memakan daging siapapun secara mentah-mentah. Kemungkinan karena kelakuan suku Berebere ini sangat mengancam ketentraman penduduk suku-suku lain, seperti suku Togutil, membuat suku Togutil memburu dan membasmi suku Berebere. Akibat dari perburuan ini suku Berebere demi menyelamatkan diri lari masuk lebih ke dalam hutan pedalaman. Setelah itu, suku Berebere ini tidak pernah lagi ditemukan oleh penduduk setempat. Tidak diketahui secara pasti, keberadaan suku Berebere saat ini dan pemukimannya pun tidak diketahui.

5. Suku Moro, di Maluku

5 Suku Yang Keberadaanya Masih Menjadi Mitos - suku moro

Suku ini adalah suku asli pulau Halmahera, yang menurut mitos pernah hidup di pulau Morotai, salah satu pulau di kepulauan Halmahera Utara provinsi Maluku Utara Indonesia. Beberapa pemuka adat (orang yang dituakan di Morotai), mengatakan bahwa suku Moro adalah penduduk asli pulau morotai. Masyarakat Halmahera hingga saat ini meyakini perkampungan suku Moro masih ada, banyak pantangan untuk tidak sembarang menebang pohon atau membunuh binatang karena diyakini pohon atau binatang itu adalah jelmaan dari suku Moro.  Beberapa kisah misteri suku Moro banyak diceritakan pada tahun 80-an, bahkan apabila ada kejadian aneh seperti “sepotong tangan melayang sambil menjepit rokok di jarinya atau suara tanpa terlihat oknumnya”, biasanya langsung dianggap sebagai aktifitas orang Moro. Cerita lain bahwa di tengah hutan Halmahera pada suatu tempat yang dipenuhi pohon-pohon besar yang rimbun yang kira-kira seluas lapangan sepakbola, tapi anehnya di tempat tersebut tidak satupun daun tergeletak di tanahnya, seperti telah disapu bersih. Di tempat ini tidak ada tanda-tanda bangunan, pondok atau semacamnya, tapi terdapat tungku batu yang masih hangat.

Ada sebuah film, yang mungkin berhubungan dengan pulau Moro. Mungkin kisah tentang suku Moro ini menarik perhatian dunia luar, sehingga terbit sebuah film, yang berjudul “The Island of Doctor Moreau” dari novel karya H.G. Wells, dalam ceritanya, tentang seorang kulit putih yang terdampar di pulau Moreau (Moro) dan ditemukan oleh sekelompok nelayan yang berbicara dalam bahasa dialek Melayu Indonesia. Dia diantar oleh nelayan itu kepada seorang doktor yang juga orang kulit putih yang sudah lama menetap di pulau Moro itu. Dia diberi kamar istrahat dan dilarang untuk keluar dari kamar. Tapi karena mendengar suara aneh, diapun penasaran, dia keluar dari kamarnya dan menuju ke arah suara aneh tadi. Tempat itu seperti rumah rumah sakit, dia mengendap-endap, dan dia melihat beberapa orang berseragam putih-putih seperti perawat, tapi betapa terkejutnya dia, ketika melihat salah satu dari perawat itu ternyata berwajah hewan yang sedang mengendong bayi mungil yang berbentuk aneh.

Sampai sekarang penduduk Halmahera tetap menganggap suku Moro yang pernah menjelajahi Halmahera sebagai sosok yang penuh misteri yang saat ini bersemayam di dunia lain.

Jadi, apakah Anda percaya bahwa kelima suku tersebut memang ada?

Baca juga : Negara-negara Ini Memiliki Cara Menyapa yang Unik

5 Suku Yang Keberadaanya Masih Menjadi Mitos |

  • Menelisik Kehidupan Pejuang Kita Di Pengasingan Boven Digoel

    Diasingkan di tempat pengasingan, bukan hal baru bagi para pejuang kita dulu. Bahkan ini sudah menjadi hal yang lumrah dan pengasingan tersebut...

  • Fakta-fakta Orang Suku Baduy Yang Jarang Diketahui

    Jika kita menelisik lagi tentang kehidupan orang-orang suku pedalaman, tentu akan menjadi minat tersendiri juga menambah pengetahuan kita, benar kan? Nah seperti...

  • Sederet Fakta Yang Harus Anda Ketahui Dari Mumi Di Papua

    Salah satu budaya Papua yang terbilang cukup ekstrim namun membuat kagum tidak lain adalah mumi. Kepatuhan pada tradisi dari cara bagaimana mereka...

  • Adat Budaya Betawi-Portugis Ini Masih Dilakukan Orang Betawi

    Apa yang Anda pikirkan tentang adat budaya DKI Jakarta? Betawi pasti salah satu yang terlintas dalam pikiran ANda. Namun, belum banyak yang...